SEJARAH JARANAN MALANG RAYA
Jaranan Dor Malang adalah kesenian Kuda Lumping yang berkembang di Malang dan Batu dengan ciri khas penari kuda lumping mengenakan pakaian sederhana yakni kaos lorek dan celana longgar dengan menari berputar-putar, kesenian ini memiliki nama lain Jaranan Kidalan, karena jaranan ini dikaitkan dengan candi kidal di malang sebagai identitas kuda lumping di malang.
keberadaan Jaranan Dor di Malang karena sering dilakukannya pertunjukan Jaranan Thek dari Ponorogo pada masa kolonial Belanda untuk mengisi kegiatan berbagai pasar malam. Setelah Indonesia merdeka disusul banyaknya perantau dari Ponorogo, Tulungagung dan Blitar yang mempertunjukan kesenian kuda lumping dari masing-masing daerah, Dalam Catatan Belanda Jaranan Thek dari Ponorogo sering mengisi acara pasar malam di Malang sejak era kolonial, sehingga dibuatlah kesenian baru pada masa itu yang sederhana yakni Jaranan Dor Malangan .[3]
pertunjukan jaranan dor di malang diiringi kendang, jidor, angklung reog gumbeng berjumlah banyak, sedangkan kostum yang dipakai hanya berpakaian kaos lorek bergaris Ponorogoan dan celana komprang Ponoragan saja tanpa mengunnakan kostum penari kuda lumping yang terlihat mewah seperti umumnya. sering kali pemain kuda lumping dan barongan mengalami kesurupan yang disebut kalap, hingga melakukan berbagai atraksi yang akan di sembuhkan oleh pawang berpakaian Warok.[4]
Dalam pertunjukan Jaranan Dor di Malang tidak menyajikan cerita atau sendratari, yang ditampilkan sebatas tari dan kesurupan saja.
Peralatan kesenian jaranan dor malang meliputi :
- Topeng Jepaplok (Singo Barong) tanpa kain
- kuda lumping
- celeng (babi)
- Pawang bomoh (bopo) berpakaian warok serba hitam membawa pecut
- alat musik kendang, jidor, terbang, kentongan dan angklung reog gumbeng

Comments
Post a Comment